Reporter : Opa Baha
BOLOK, LPPL RSKK – Pencemaran lingkungan berskala serius melanda kawasan perairan Bolok, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang. Tumpahan minyak jenis oli dan solar yang diduga berasal dari bangkai kapal tenggelam di sekitar lokasi dilaporkan telah menyebar luas dan mengancam keberlangsungan ekosistem laut serta aktivitas ekonomi masyarakat pesisir.
Dua sektor yang paling terdampak akibat pencemaran tersebut adalah industri budidaya mutiara milik PT Timor Otsuki Mutiara (PT TOM) dan para petani rumput laut di wilayah Bolok dan Pulau Semau.
Manager SDM PT TOM, Pelipus Pila Ndelu, A.Md., S.H., kepada RSKK, Sabtu (1/8/2026) membenarkan terjadinya pencemaran tersebut. Ia mengungkapkan keprihatinannya terhadap sebaran limbah minyak yang terus meluas di kawasan perairan Bolok.
Menurutnya, PT TOM merupakan perusahaan yang sangat bergantung pada kualitas lingkungan laut karena seluruh proses budidaya kerang mutiara berlangsung di perairan alami.
"PT TOM adalah perusahaan yang bersimbiosis dengan lingkungan. Keberlangsungan usaha kami sangat bergantung pada kondisi lingkungan yang bersih. Jika lingkungan rusak atau tercemar, usaha kami juga akan rusak bahkan bisa hancur," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa budidaya kerang mutiara merupakan sektor yang sangat sensitif terhadap perubahan kualitas air laut. Tumpahan oli dan solar dikhawatirkan dapat menyebabkan kematian kerang mutiara, kegagalan produksi, hingga berdampak pada keberlangsungan operasional perusahaan.
Selain mengancam produksi, kondisi tersebut juga berpotensi menimbulkan dampak sosial yang lebih luas apabila berlangsung dalam waktu lama, termasuk risiko berkurangnya kesempatan kerja akibat terganggunya aktivitas usaha.
Hingga saat ini, pihak PT TOM belum dapat menghitung total kerugian yang dialami. Namun, fokus utama perusahaan adalah mencegah agar pencemaran tidak semakin meluas ke kawasan budidaya mutiara lainnya.
Di sisi lain, para petani rumput laut di sepanjang pesisir Kupang Barat juga merasakan dampak pencemaran. Lapisan minyak yang mengapung di permukaan laut dilaporkan menempel pada tanaman rumput laut sehingga menimbulkan kekhawatiran akan kerusakan dan gagal panen.
PT TOM menegaskan komitmennya terhadap pelestarian lingkungan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan "PT TOM Peduli Lingkungan", yang menempatkan perlindungan lingkungan sebagai prioritas utama perusahaan.
Pelipus juga menyampaikan bahwa perusahaan telah melakukan koordinasi dengan sejumlah instansi terkait guna mempercepat langkah penanganan.
"Sejauh ini perusahaan telah berkoordinasi dengan pihak terkait seperti PSDKP, Pengelola Kawasan Konservasi Laut Sawu, BKSDA NTT, dan Polairud untuk bersama-sama melakukan tindakan pencegahan lebih lanjut," pungkasnya.

%20-%20Dibuat%20dengan%20PosterMyWall%20(1).jpg)
0 Komentar